Momen Tersulit Wenger Akibat Pindah Ke Emirates Stadium

Momen Tersulit Wenger Akibat Pindah Ke Emirates Stadium

Sebuah klub yang memiliki nama besar, tentu tidak terlepas dari peran sang pelatih. Begitu juga Arsenal yang telah dimenejeri Arsene Wenger selama dua dekade. Dalam kurun waktu tersebut, tentu sudah banyak momen spesial yang telah dijalani oleh Wenger bersama dengan anak asuhannya. Tapi ternyata, kejadian yang paling buruk adalah ketika The Gunners diharuskan untuk pindah stadion.

 

Kepindahan Arsenal Jadi Momen Buruk Bagi Arsene Wenger

Wenger menjabat sebagai menejer Arsenal sejak tahun 1996. Bahkan pria yang lahir 22 Oktober 1949 itu telah menjadi salah satu manajer top yang ada di dunia. Penghargaan yang pernah diraih adalah gelar Premier League sebanyak tiga kali dan enam trofi Piala FA. Prestasi tersebut merupakan pencapaian yang didapatkan oleh Wenger di tim tersebut.

 

Salama bertahun-tahun menjadi pelatih klub besar, tentu banyak momen yang dialami oleh Wenger, baik kejadian menyenangkan maupun yang tidak mengenakkan. Jika membicarakan mengenai hal yang buruk-buruk, Wenger menyebut kalau kepindahan klubnya ke Emirates dari Highbury merupakan titik terendah dalam karirnya. Emirates Stadium memang termasuk stadion yang besar, bahkan mampu memiliki kapasitas hingga 60 ribu tempat duduk dan mampu menghasilkan lebih banyak uang.

 

Arsenal Jual Para Bintang Demi Stadion Baru

Di balik kelebihannya tersebut, ternyata uang yang harus digelontorkan tim juga tak sedikit. Biaya untuk pembangunan stadion tersebut berkisar di atas 400 juta poundsterling, dan hal itu mengharuskan klub raja poker  harus melakukan penghematan. Ya, sejak tahun 2006 sampai 2014, The Gunners telah banyak menjual para bintangnya. Sehingga mereka menjadi kesulitan untuk bersaing dan mendapatkan gelar juara.

 

Cukup lama Arsenal tak menyabet gelar apapun. Bahkan dari tahun 2004, The Gunners mesti puasa gelar Liga Inggirs dan lainnya. Namun kemudian, anak asuhan Wenger berhasil memutus nasib buruk itu dengan meraih juara Piala FA 2014.

 

Arsene Wenger menjelaskan pada BT Sport, bahwa, “Tahun 2006 adalah awal dari periode paling sulit dalam hidup saya, karena kami harus membatasi pengeluaran kami, kami harus menyicil utang kami yang sangat besar dan menjual para pemain terbaik kami serta bertahan di papan atas.”

 

“Kami harus tetap berada di Liga Champions dan kami setidaknya harus membuat 54 ribu orang bahagia,” jelasnya.

“Ada banyak perdebatan ketika Anda membangun stadion baru. Seberapa besar kapasitasnya? Simple saja sebenarnya, untuk saat itu harganya 4 ribu poun per kursi. Anda bisa mengalikannya dengan 60 ribu dan nilainya 240 juta pound.”

 

“Ditambah, kami harus membeli tanah serta seluruh bisnis di daerah itu, sehingga pengeluarannya lebih dari 420 juta pound dan kami harus membayar cicilan kami setiap tahunnya. Itulah mengapa kami harus tetap bertahan di Liga Champions,” tambahnya.

 

“Hari ini uang dari hak siar memang membuat bobot Liga Champions lebih lemah, tapi di saat bersamaan kami membutuhkannya. Jadi buat saya itu adalah periode terberat di antara 2006 sampai 2014.”

“Hari ini, Anda meminta saya melakukannya lagi, tapi saya katakana ‘tidak, terimakasih dan biarkan yang melakukannya’, karena itu periode yang sangat sulit.”

 

Dibalik peliknya urusan internal yang sedang dihadapi oleh Arsenal. Ternyata Arsene Wenger memiliki peluang untuk menjadi manajer paling sukses di Piala FA, jika The Gunners menjadi juara pada musim ini. Meskipun begitu, bila memperoleh medali juara, Wenger tidak akan menyimpannya. Pada Sabtu 27 Mei 2017, Arsenal akan berhadapan dengan Chelsea di final Piala FA di Wembley.